06
Nov
08

blog…..

Letting a hundred flowers blossom and a hundred schools of thought contend… - Chairman Mao

Kalo sejak kecil kamu punya bakat melawan orang tua (awas dosa lo), atau guru atau ga percaya kata koran, majalah, tv, suka bertanya “Kenapa?” dan “Mengapa?” maka kemungkinan besar kamu punya bakat Anti-authoritarian. Yaitu mereka yang mengambil posisi berlawanan, apalah itu dengan konsentrasi kekuasaan dalam tokoh seorang pemimpin atau kelompok elite, atau terhadap doktrin, dogma dan kepercayaan.

Kalo kamu punya bakat buat berpikir beda sama kebanyakan orang, menolak apa yang umumnya sudah diterima, ga mau ikut-ikutan apa yang lagi trend, bikin gaya kamu sendiri, percaya apa yang orang lain ga percaya dan sebaliknya ga percaya apa yang banyak orang mempercayai dengan sepenuh hati maka mungkin kamu seorang Contrarian. Mereka yang secara sosiologis diterangkan memiliki sikap melawan establishme dimasanya.

Jika kamu punya salah satu bakat diatas maka kemungkinan besar kamu akan menyukai hidup ditahun 60′an di Amerika, saat gerakan Counterculture (budaya balasan) bermula dan marak sebagai reaksi terhadap norma-norma konformis 50an dimana segala sesuatu tampak seragam juga terhadap intervensi militer amerika di Vietnam.

Selama ini budaya balasan diatas terkenal karena simbol-simbolnya, para Hippie berambut panjang, komunal-komunal dimana orang hidup bersama dan bikin teknologi sendiri, dan tentu juga yang paling ngetop (selain free sex!) adalah eksperimen dengan LSD, acid dan obat-obatan psychedelic lainnya, sebagai alat meng-enhance kapasitas otak manusia.

Kebayang kan, para dudes dan dudettes pada masa itu, terutama para pemikirnya adalah mereka yang Anti-authoritarian dan Contrarian. Mereka yang memandang sebel dan curiga pada semua institusi dan establishme elites, apakah itu korporasi, pemerintah, militer, orang tua, akademisi, universitas dan agama. Mereka hadir dengan ide dan nilai-nilai baru yang tidak sama dengan generasi sebelumnya. Untuk melawan “The Man” kata Jack Black di School of Rock, yang berseru power to the people!. :D
Dan tidak itu aja, kalo kamu baca posting di blog ini, di a thing yang namanya Internet ini, chatting sama temen kamu, kirim2x email ga jelas, ngejunk di milis, ngerjain tugas di komputer pribadi, maka kamu perlu berterimakasih juga sama mereka.

Tech Revolution, dari komputer pribadi, gadget, Operating System, Microsoft, iPod, Internet dan Blog (!) semua perlu berterima kasih pada counterculture hampir 50 tahun yang lalu itu.

RU Sirius (bukan nama asli tentunya) seorang penulis dan musisi, menulis dalam postingnya Counterculture and the Tech Revolution sebuah summary perjalanan antara counterculture hingga tech revolution dimana kita berada sekarang ini.

Berangkat dari dua buku baru yang membahas tentang perjalanan ini yaitu What the Dormouse Said: How the 60s Counterculture Shaped the Computer Industry karangan John Markoff dan From Counterculture to Cyberculture: Stewart Brand, the Whole Earth Network, and the Rise of Digital Utopianism karangan Fred Turner, dia menggambarkan bagaimana budaya sharing, penggunaan internet sekarang ini, komunitas-komunitas di Internet, riset, personal expression, budaya hacking dan development di berbagai bidang, cybernetics, enkripsi dan lain-lain lagi memiliki akar di pemikiran dan ide yang bisa ditelusuri ke counterculture

Steve Wozniak dan Steve Jobs pendiri Apple Computer adalah contoh jelas tokoh yang muncul dari budaya counterculture dan hingga sekarang Silicon Valley masih berhutang budi pada gerakan budaya balasan ini.

Teknologi khususnya Personal Computer (PC) hadir didasarkan pada pemikiran yang sama yaitu teknologi pribadi yang menambah kemampuan berpikir dan produktifitas manusia, sebagai alat agar manusia bisa melihat lebih dari apa yang bisa kita lihat biasanya, sama seperti LSD.

Mencermati dan menarik benang merah dari latar belakang diatas sangatlah jelas kalo kita merasa bahwa Internet (dalam bentuk teknologi dan budaya yang tumbuh disekitarnya), sebagai salah satu produk dari gerakan tersebut, secara alaminya juga bersifat Anti-authoritarian dan Contrarian.

Selalu ada sesuatu yang pas saat kita menyandingkan kata revolusioner dan phenomenon terhadap segala sesuatu di Internet. Dari ecommerce, napster, p2p, paypal, web2.0, Wikipedia, Google, YouTube dan blog tentunya.

Masing-masing adalah sebuah “revolusi” yang mau menggantikan apa yang sudah umum dan sudah established.

Napster mempopulerkan MP3 dan akan membangkrutkan perusahaan rekaman, Wikipedia yang disusun oleh orang biasa dan anonim menggantikan ensiklopedia sebagai katalog pengetahuan umat manusia, Paypal bermula dengan ide untuk menggantikan sistem monetari dunia, Google memberikan akses informasi dan membuatnya berarti tanpa melihat siapa yang bikin selama materinya relevan dan berguna, dan Blog tentunya hadir sebagai revolusi ekspresi pribadi yang mengancam jalur informasi mapan seperti media massa.

Satu fenomena diatas fenomena lainnya. Semua lahir dari sebuah gerakan yang menolak otoritas dan sebel sama kemapanan.

Berangkat dari situ, yang menarik adalah begitu cepat fenomena-fenomena diatas kemudian menjadi sebuah kemapanan itu sendiri. Masing-masing revolusi berubah menjadi sebuah institusi dengan aturan, norma, etiket yang seolah-olah haram untuk dilanggar.

Blogging misalnya. Yang menarik dari blog adalah sifatnya yang merusak tatanan dan sifat media. Tidak lagi kita perlu modal banyak untuk mempublish materi yang dibaca oleh ribuan orang, tidak lagi kita dibatasi oleh seorang editor dan pemilik modal yang mengawasi apa yang boleh publish dan apa yang tidak. Tidak lagi seseorang perlu bekerja di media massa menjadi wartawan atau jurnalis untuk melaporkan sesuatu yang dibaca khalayak ramai.

Tapi blogosphere pun cepat kemudian berubah mengadopsi tatanan kemapanan yang ada.

Yang paling sering ditanyakan adalah, apakah ada etiket dan norma dalam penulis blog? Bagaimanakah blog yang baik itu? Bagaimanakan agar blog kita sukses? Bagaimana menulis blog yang benar?

Iya mungkin pertanyaan diatas itu pertanyaan yang wajar, tapi blogging bukan tentang itu, bukan tentang mengikuti aturan yang ada, blogging justru tentang melanggar aturan, melanggar konvensi, melanggar kemapanan. Blogging adalah sebuah budaya balasan.

Kenapa harus ada, misalnya, yang namanya seleb blog (hehe), blogger senior, bapak blog dan lain sebagainya, yang seolah-olah perlu diminta restunya agar blog jadi lebih baik, seolah-olah mereka telah menjadi sebuah institusi sendiri (institut teknologi blogging), terlah ter-institutionalized.

Untungnya, kemapanan pada saatnya, toh pasti akan tergantikan. Rejim datang dan pergi, yang asalnya diatas kemudian turun dan yang muda menggantikan yang tua.

Segala bentuk kemapanan, dari tokoh hingga institusi harus memberi jalan (dan pasti memberi jalan) pada counterculture-nya sendiri yang akan membawa kita pada perubahan, dan sesuatu yang lebih baik.

Apakah itu melalui proses yang disengaja atau tidak sengaja. Proses sukarela atau terpaksa, atau sebuah proses self-destruct seperti berpoligami dan merekam video pribadi, tidak ada yang pasti.

Karena yang pasti dari perubahan adalah perubahan itu sendiri.

Sumber : http://enda.goblogmedia.com




Leave a Reply

You must login to post a comment.





Jkebox

listen here

 

November 2008
M T W T F S S
« Sep   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930