Posts Tagged ‘indo

13
Sep

Hebohnya “Rocker” Perempuan

PASCA-Dara Puspita, bermunculan sejumlah penyanyi rock dan grup musik perempuan. Sebagai rocker, perempuan menjadi tidak lagi lembut. Paha yang mestinya terkesan empuk menjadi keras dengan balutan sepatu lars kulit berhias paku jamur atau pernak-pernik lainnya. Lengannya yang gemulai diganduli gelang-gelang logam yang berat. Sementara tubuh dibalut pakaian yang seakan-akan asal menutup yang penting-penting saja. Dilengkapi teriak yang melengking dan gerakan “garang” di atas panggung, begitulah rocker perempuan pada tahun 1970-an dan 1980-an.

SALAH satu dari mereka adalah Euis Darliah. Setelah kenyang makan asam garam menyanyi di kelab malam, penyanyi bertubuh mungil asal Cimahi ini bergabung dengan grup Antique Clique bersama Renny Asmara (drum), Ninik Kastanya (alto sax), Evy Martha (bas) dan Reza Anggoman (gitar, organ) pada Februari 1975.

Dua bulan berikutnya, Euis dan kawan-kawan ikut Festival Band Wanita Se-Indonesia 1975 yang diselenggarakan majalah berita musik Top. Selain Antique Clique, peserta lainnya adalah grup Pretty Sisters (asal Surabaya kemudian pindah ke Jakarta), The Queens (Jakarta), One Dee and Lady Faces (Bandung), Marati Sister (Medan), Dara Kartika (Medan), Fellows Group (Jakarta), Family Sisters (Jakarta), dan Aria Junior (Jakarta). Pretty Sisters berhasil menjadi juara, diikuti Aria Junior runners-up, dan One Dee and Lady Faces juara ketiga. Antique Clique di posisi ketujuh.

Euis dan Antique Clique sudah terlihat nakal dalam festival yang diselenggarakan di Istora Senayan awal April 1975 itu. Karena mereka merasa tidak akan menang menghadapi grup lainnya, yang dilakukan Euis adalah bertingkah sebagaimana tampil di panggung pertunjukan biasa. Ia bahkan menggoyang-goyangkan bokongnya kepada juri yang diketuai Isbandi (Orkes Studio Jakarta) dan beranggotakan Mus K Wirya (pencipta lagu), Asbon (pemusik), Yusril Jalinus (majalah Tempo), Sumohadi Marsis (Kompas), Widya Kristanti (pemusik), Johnny Herman (TVRI), dan kritikus musik Remy Sylado.

Dengan enteng Euis mengatakan mereka ikut festival itu bukan untuk menang, melainkan memuaskan penggemar mereka, yang menyerbu anggota Antique Clique minta tanda tangan begitu acara festival usai. Penonton yang hadir memang ramai bersorak ketika Euis beraksi dengan goyangnya yang tidak dari kiri ke kanan, melainkan menggerakkan bagian bawah tubuhnya dari depan ke belakang berulang-ulang. Hingga Wandy, pemimpin grup One Dee and Lady Faces yang sama-sama berasal dari Jawa Barat, berteriak, “Euis, maneh teh kikituan wae ti baheula? (Kamu begitu-begitu saja dari dulu?).”

Wandy memang diam-diam ngefans sama Euis dan menyebutnya sebagai superstar. Meskipun bersama Antique Clique hanya mendapat posisi nomor tujuh, tidak disangkal bahwa Euis memang jadi superstar di festival itu, karena penonton paling riuh ketika dia berjingkrak dan menabuh gendang tanpa berhenti bergoyang.

Apa yang diperlihatkan Euis di ajang festival band wanita tingkat nasional yang pertama justru membuat Antique Clique diburu penyelenggara pertunjukan. Bulan Mei dan Juni 1975 mereka dibawa keliling Sumatera Utara. Di Tebing Tinggi, 11 Juni 1975, Euis bersemangat melebihi biasanya karena di samping mereka ada dua grup perempuan andal Sumatera yang mendampingi, D’Sys dan Diana Group.

Sukses di Tebing Tinggi berlanjut di Pematang Siantar, tetapi sebelum itu pertunjukan Antique Clique di Gedung Olahraga Medan hanya disaksikan kurang dari 1.000 penonton. Bahkan di Wisma Kartini, Medan, yang datang hanya sekitar 200 orang. Wali Kota Medan M Saleh Arifin dan istri yang ikut menonton pulang lebih awal karena tidak tahan menyaksikan aksi Euis dan kawan-kawannya membawakan lagu-lagu Janis Joplin, lagu Rolling Stones, Honky Tonk Woman, atau lagu India, Sawan Karmahina.

PARA penyanyi rock pada masa itu memang nyaris tidak punya lagu sendiri. Mereka juga tidak sepenuhnya membawakan lagu rock, jadi tidak heran hampir selalu diselingi lagu dangdut atau pop. Penyanyi rock perempuan lainnya, Rose Kusumadewi, yang dikenal dengan pakaiannya yang berjumbai-jumbai melakukan hal yang sama. Bahkan ketika masuk studio rekaman, Rose berdangdut meskipun banyak yang mengatakan tidak cocok dengan warna suaranya.

Padahal, kalau di atas panggung, di samping pakaiannya yang khas itu, Rose mencoret-coret muka dan lehernya dengan kosmetik berwarna merah. Tentu saja dilengkapi goyang dan aksi yang sensual. Rose telaten mengurusi busananya. Untuk urusan kancing, misalnya, dia keliling mengunjungi tukang jok mobil. Urusan gelang, ikat pinggang, sepatu, dan aksesori lainnya kalau tidak ditemukan di Jakarta, dia tidak segan mencari hingga ke Bandung atau kota-kota lainnya.

Rose terbilang penggemar berat Deep Purple. Ketika grup asal Inggris itu tampil di Istora Senayan, dia menonton dua kali. Lagu grup ini memang sering dibawakannya di atas panggung, di samping lagu-lagu penyanyi dan grup rock mancanegara lainnya. Berbeda dengan Eius, Rose tidak punya grup sendiri. Dia selalu minta diiringi grup musik yang mana saja meskipun akibatnya sering merasa tidak puas dengan musik pengiringnya.

Silvia Saartje, penyanyi rock kelahiran Arnheim, Belanda, yang berdomisili di Malang, barangkali lebih beruntung. Dalam arti, ketika masuk studio rekaman, dia memperoleh lagu dan musik gitaris God Bless, Ian Antono, Biarawati. Lagu ini sempat mengangkat namanya cukup tenar, tetapi setelah itu entah mengapa Ian tidak lagi memberikan lagunya, hingga tujuh rekaman Jippie, demikian panggilan akrabnya, tidak pernah lagi bisa mengulangi sukses Biarawati.

Namun, Jippie tetap setia dengan musik rock yang dilakoninya di atas panggung dengan kostum agak seronok, seperti blus yang belahan dadanya rendah, sehingga buah dadanya seakan-akan segera meloncat ke luar sewaktu dia bergoyang di pentas. Tampil dalam film sebagai penyanyi dalam Kodrat-nya Slamet Raharjo. Sebelum dikenal sebagai penyanyi rock, Jippie sebenarnya sudah membintangi film dengan peran gadis genit, ketika masih duduk di bangku SLTP. Masih tetap tinggal di Malang, Jippie sekarang berusia 48 tahun.

Demikian juga Renny Djajusman suka pamer dada. Seperti yang diperlihatkannya ketika tampil pada 25 Oktober 1985 di Balai Sidang dalam acara Lady Rockers 85 yang diselenggarakan Chattra Enterprise. Pakaiannya sedemikian rupa sehingga dadanya yang menonjol menjadi sasaran kamera wartawan foto, membuat Renny yang menyanyikan lagu Foreigner, Break It Up, dan People Get Ready-nya Rod Stewart akhirnya risi sendiri.

Dalam acara itu tampil sembilan penyanyi rock perempuan. Selain Renny, ada Iwot Husein yang membawakan Trouble (Suzi Quatro), Chetty Wulansari dengan Take a Look at Me Now (Phil Collins), Peppy Suparman (Wake Me Up Before You Go Go, Wham), Ita Purnamasari (Making Love Out of Nothing at All, Air Supply), Rose Kusumadewi (Speed King, Child in Time, Deep Purple), Nicky Astria dengan hitnya sendiri, Jarum Neraka, Silvia Saartje (Infatuation, Early Morning, Rod Stewart) dan Euis Darliah yang melantunkan sebuah lagu ciptaan Dodo Zakaria, Hanya Misteri, di samping Help (Tina Turner) dan sebagaimana biasa, Honky Tonk Woman. Dodo Zakaria (organ) bersama Ian Antono (gitar), Arthur Kaunang (bas), Odink Nasution (gitar), dan Yaya Mukthio (drum) mengiringi kesembilan penyanyi rock perempuan itu.

Rose Kusumadewi, Renny Djajusman, dan Euis Darliah-lah yang menjadi bintang Lady Rockers 85. Tentu masih ada sejumlah nama lainnya di luar sembilan nama itu, antara lain Cut Irna, Atiek CB, atau bahkan Lies Saodah dengan dangdut rock bersama grupnya, Helista. Gaya Lies Saodah terkadang lebih rock daripada dangdut.

Dalam lagu yang diciptakannya sendiri berjudul Bergembira, intronya dengan musik ala Santara diaduk menjadi satu dengan iringan musik hard rock dan irama soulnya Tina Turner. Dangdutnya hanya terasa pada gendang. Semua itu ditambah dengan teriakan Lies yang membahana mengiringi aksinya di atas panggung. Tapi sasaran Helista waktu itu adalah menyaingi Soneta-nya Rhoma Irama, bukan para lady rocker.

Kalau Euis sehari-hari berbusana biasa saja, tidak demikian halnya dengan Renny Djajusman yang hampir selalu tampil nyentrik, meskipun tidak seekstrem kalau berada di atas panggung dengan 30 cincin, selusin gelang, 10 kalung, hiasan rambut, hiasan telinga, dan ikat kepala. Sementara Rose Kusumadewi hanya di atas panggung saja berpakaian jumbai-jumbai atau terkadang hot-pant yang superpendek. Jangan harap sehari-hari menemukannya berpakaian seperti itu. “Semua itu hanya untuk di panggung,” ucap Rose pada tahun 1984 sambil mengaku bahwa di rumah dia adalah perempuan yang lembut dan bisa memasak rendang, rawon, atau sayur lodeh.

Dari semua rocker perempuan itu, kelihatannya langkah Euis Darliah-lah yang paling panjang. Setelah Antique Clique bubar, Euis menyanyi sendiri dan kembali ke panggung kelab malam dengan gayanya yang tetap nakal. Tapi sebuah sikap yang cukup berani diambilnya, yaitu mengucapkan selamat tinggal kepada kelab malam dan membuang kebiasaannya meneguk minuman keras, teler, dan mengonsumsi obat terlarang.

Tahun 1981 bersama Hetty Koes Endang, Euis membawakan lagu Siksa ciptaan Titiek Hamzah, mantan pemetik gitar bas grup Dara Puspita, di World Pop Song Festival di Budokan, Tokyo. Sekembali ke Tanah Air, ia mulai menapak kakinya ke studio rekaman, tapi sejumlah kaset yang dihasilkannya ternyata tidak juga membawa perubahan. Namun Euis tidak mundur. Dari wiski, brendi, dan Johnny Walker, Euis beralih ke Milo, Ovaltine, dan STMJ (susu, telur madu, jahe). Seorang pemusik yang jatuh cinta kepadanya membimbing penyanyi bertubuh mungil ini ke DD Records. Di sinilah lahir lagunya yang paling populer, Apanya Dong, ciptaan Titiek Puspa.

Euis membawakan lagu itu tanpa meninggalkan gayanya yang nge-rock. Ternyata dengan cara itu masyarakat justru menyukainya dan Apanya Dong menjadi lagu paling banyak didengar dan dinyanyikan orang akhir tahun 1982 hingga tahun berikutnya. Euis diundang manggung di mana-mana. Dia semakin perkasa di atas panggung karena di samping membawakan lagu Janis Joplin atau Honky Tonk Woman, sekarang punya lagu sendiri.

Sebuah sedan Mitsubishi Lancer, rumah, dan sejumlah uang adalah hasil dari Apanya Dong yang laku lebih dari 700.000 kaset. Tapi Euis ternyata tetap lebih senang mengendarai mobilnya yang lama, Subaru. Alasannya, kalau mengendarai Mitsubishi Lancer-nya harus pasang AC dan kaca mobil ditutup hingga orang tidak tahu Euis Darliah berada di dalamnya.

“Ada nilai sejarahnya karena Subaru benar-benar hasil saya nge-rock di atas panggung dan tidak ber-AC, jadi jendelanya terbuka terus,” kata Euis beralasan, yang sekarang berusia 49 tahun dan tinggal di Swedia, kepada seorang wartawan yang paling akrab dengannya pada tahun 1984.

<THEODORE KS>





Jkebox

listen here

 

October 2009
M T W T F S S
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031